Home » P2TL » P2TL BAGIAN D ISYARAT BUNYI DAN CAHAYA

P2TL BAGIAN D ISYARAT BUNYI DAN CAHAYA

admin 26 Mar 2023 21

 

BAGIAN D
ISYARAT BUNYI DAN ISYARAT CAHAYA

ATURAN 32

D E F I N I S I

(a). Kata “ suling “ berarti alat isyarat
bunyi yang dapat menghasilkan tiupan-tiupan yang ditentukan dan yang memenuhi
perincian-perincian didalam Lampiran III Peraturan-peraturan ini.

(b). Istilah “ tiup pendek “ berarti tiupan
yang lamanya kira-kira satu detik ;

(c). Istilah “ tiup panjang “ berarti tiupan
yang lamanya 4 sampai 6 detik.

ATURAN 33

PERLENGKAPAN UNTUK ISYARAT BUNYI

(a). Kapal yang panjangnya 12 meter atau lebih
harus dilengkapi dengan suling dan genta serta kapal yang panjangnya 100 meter
atau lebih sebagai tambahan, harus dilengkapi dengan gong yang nada dan
bunyinya tidak dapat terkacaukan dengan nada dan bunyi genta. Suling, genta dan
gong itu harus memenuhi, perincian-perincian didalam Lampiran III Peraturan
ini.

Genta atau gong atau kedua-duanya boleh
diganti dengan perlengkapan lain yang mempunyai sifat-sifat khas yang sama
dengan bunyi masing-masing, dengan ketentuan bahwa alat-alat isyatar yang
ditentukan itu harus selalu mungkin dibunyikan dengan tangan.

(b). Kapal yang panjangnya kurang dari 12
meter tidak wajib memasang alat-alat isyarat bunyi yang ditentukan didalam
paragrap (a) Aturan ini, tetapi jika tidak memasangnya, kapal itu harus
dilengkapi dengan beberapa sarana lain yang menghasilkan isyarat bunyi yang
efisien.

ATURAN 34

ISYARAT OLAH GERAK DAN ISYARAT PERINGATAN

(a). Bilamana kapal-kapal dalam keadaan saling
melihat, kapal tenaga yang sedang berlayar, bilamana sedang berolah gerak
sesuai dengan yang diharuskan atau dibolehkan atau disyaratkan oleh
Aturan-aturan ini, harus menunjukan olah gerak tersebut dengan isyarat-isyarat
berikut dengan menggunakan sulingnya :

– Satu tiup pendek untuk menyatakan “ Saya
sedang merubah haluan saya kekanan “ ;

– Dua tiup pendek untuk menyatakan “ Saya
sedang merubah haluan saya kekiri “ ;

– Tiga tiup pendek untuk menyatakan “ Saya
sedang menjalankan mundur mesin penggerak “.

(b). Setiap kapal boleh menambah isyarat-isyarat
suling yang ditentukan didalam paragrap (a) Aturan ini dengan isyarat-isyarat
cahaya, diulang-ulang seperlunya sementara olah gerak sedang dilakukan :

Isyarat-isyarat cahaya ini harus mempunyai
arti berikut :

Satu kedip untuk menyatakan “ Saya sedang
mengubah haluan saya kekanan “ ;

Dua kedip untuk menyatakan “ Saya sedang
mengubah haluan saya kekiri “ ;

Tiga kedip untuk menyatakan “ Saya sedang
menjalankan mundur mesin penggerak “ ;

Lamanya masing-masing kedip harus kira-kira
satu detik, selang waktu antara kedip-kedip itu harus kira-kira satu detik,
serta selang waktu antara isyarat-isyarat beruntun tidak boleh kurang dari 20
detik ;

Penerangan yang digunakan untuk isyarat ini
jika dipasang, harus penerangan putih keliling, dapat kelihatan dari jarak
minimum 5 mil dan harus memenuhi ketentuan-ketentuan Lampiran I Peraturan ini.

(c). Bilamana dalam keadaan saling melihat
dalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit :

Kapal yang sedang bermaksud menyusul kapal
lain, sesuai dengan Aturan 9 (e) (i) harus menyatakan maksudnya itu dengan
isyarat berikut dengan sulingnya :

– Dua tiup panjang diikuti satu tiup pendak
untuk menyatakan “ Saya bermaksud menyusul anda di sisi kanan anda “ ;

– Dua tiup panjang diikuti dua tiup pendak
untuk menyatakan “ Saya bermaksud menyusul anda di sisi kiri anda “.

Kapal yang sedang siap untuk disusul itu
bilamana sedang melakukan tindakan sesuai dengan Aturan 9 (e) (i), harus
menyatakan persetujuannya dengan isyarat-isyarat dengan sulingnya :

-Satu tiup panjang, satu tiup pendek, satu
tiup panjang dan satu tiup pendek dengan tata urutan tersebut.

(d). Bilamana kapal-kapal yang dalam keadaan
saling melihat sedang saling mendekat dan karena suatu sebab, apakah salah satu
dari kapal-kapal itu atau kedua-duanya tidak berhasil memahami maksud-maksud
atau tindakan-tindakan kapal yang lain atau dalam keadaan ragu-ragu apakah
kapal yang lain sedang melakukan tindakan yang memadai untuk menghindari
tubrukan, kapal yang dalam keadaan ragu-ragu itu harus segera menyatakan
keragu-raguan demikian dengan memperdengarkan sekurang-kurangnya 5 tiup pendek
dan cepat dengan suling. Isyarat demikian boleh ditambah dengan isyarat cahaya
yang sekurang-kurangnya terdiri dari 5 kedip, pendek dan cepat.

(e). Kapal yang sedang mendekati tikungan atau
daerah alur pelayaran atau air pelayaran yang ditempat itu kapal-kapal lain
dapat terhalang oleh alingan, harus memperdengarkan satu tiup panjang.

Isyarat demikian itu harus disambut dengan
tiup panjang oleh setiap kapal yang sedang mendekat yang sekiranya ada didalam
jarak dengar disekitar tikungan atau dibalik alingan itu.

(f). Jika suling-suling dipasang di kapal
secara terpisah dengan jarak lebih dari 100 meter, hanya satu suling saja yang
harus digunakan untuk memberikan isyarat olah gerak dan isyarat peringatan.

ATURAN 35

ISYARAT BUNYI DALAM PENGLIHATAN TERBATAS

Didalam atau didekat daerah yang
berpenglihatan terbatas baik pada siang hari atau pada malam hari,
isyarat-isyarat yang ditentukan didalam Aturan ini harus digunakan sebagai
berikut :

(a). Kapal tenaga yang mempunyai laju di air
memperdengarkan satu tiup panjang dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.

(b). Kapal tenaga yang sedang berlayar tetapi
berhenti dan tidak mempunyai laju di air harus memperdengarkan dua tiup panjang
beruntun dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit dan selang waktu
tiup-tiup panjang itu kira-kira 2 detik.

(c). Kapal yang tidak terkendalikan, kapal
yang kemampuan olah geraknya terbatas, kapal yang terkendala oleh saratnya,
kapal layar, kapal yang sedang menangkap ikan dan kapal yang sedang menunda
atau mendorong kapal lain sebagai pengganti isyarat-isyarat yang ditentukan
didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini harus memperdengarkan tiga tiup
beruntun, yakni satu tiup panjang diikuti oleh dua tiup pendek dengan selang
waktu tidak lebih dari 2 menit.

(d). Kapal yang sedang menangkap ikan bilamana
berlabuh jangkar dan kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas bilamana
sedang menjalankan pekerjaannya dalam keadaan berlabuh jangkar, sebagai
pengganti isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragrap (g) Aturan ini,
harus memperdengarkan isyarat yang ditentukan dadalam paragrap (c) Aturan ini.

(e). Kapal yang ditunda atau jika yang kapal
ditunda itu lebih dari satu, maka kapal yang paling belakang dari tundaanitu
jika diawaki, harus memperdengarkan 4 tiup beruntun, yakni 1 tiup panjang
diikuti 3 tiup pendek, dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit. Bilamana
mungkin, isyarat ini harus diperdengarkan oleh kapal yang menunda.

(f). Bilamana kapal yang sedang mendorong dan
kapal yang sedang didorong maju diikat erat-erat dalam kesatuan gabungan,
kapal-kapal itu harus dianggap sebagai sebuah kapal tenaga dan harus
memperdengarkan isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b)
Aturan ini.

(g). Kapal yang berlabuh jangkar harus
membunyikan genta dengan cepat selama kira-kira 5 detik dengan selang waktu
tidak lebih dari 1 menit.

Di kapal yang panjangnya 100 meter atau lebih
genta itu harus dibunyikan dibagian depan kapal dan segera setelah pembunyian genta,
gong harus dibunyikan cepat-cepat selama kira-kira 5 detik dibagian belakang
kapal.

Kapal yang berlabuh jangkar, sebagai tambahan
boleh memperdengarkan tiga tiup beruntun, yakni satu tiup pendek, satu tiup
panjang dan satu tiup pendek untuk mengingatkan kapal lain yang mendekat
mengenai kedudukannya dan adanya kemungkinan tubrukan.

(h). Kapal yang kandas harus memperdengarkan
isyarat genta dan jika dipersyaratkan, isyarat gong yang ditentukan didalam
paragrap (g) Aturan ini, dan sebagai tambahan harus memperdengarkan tiga
ketukan terpisah dan jelas dengan genta sesaat sebelum dan segera setelah
pembunyian genta yang cepat itu. Kapal yang kandas, sebagai tambahan boleh
memperdengarkan isyarat suling yang sesuai.

(i). Kapal yang panjangnya kurang dari 12
meter tidak wajib memperdengarkan isyarat-isyarat tersebut diatas, tetapi jika
tidak memperdengarkannya, kapal itu harus memperdengarkan isyarat bunyi lain
yang efisien dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.

(j). Kapal pandu bilamana sedang bertugas
memandu, sebagai tambahan atas isyarat-isyarat yang ditentukan didalam
paragraph (a), (b) atau (g) Aturan ini boleh memperdengarkannya isyarat
pengenal yang terdiri dari 4 tiup pendek.

ATURAN 36

ISYARAT UNTUK MENARIK PERHATIAN

Jika perlu untuk menarik perhatian kapal lain,
setiap kapal boleh menggunakan isyarat cahaya atau isyarat bunyi yang tidak
dapat terkelirukan dengan setiap isyarat yang diharuskan atau dibenarkan
dimanapun didalam Aturan ini, atau boleh mengarahkan berkas cahaya lampu
kejurusan manapun. Sembarang cahaya yang digunakan untuk menarik perhatian
kapal lain harus sedemikian rupa sehingga tidak dapat terkelirukan dengan alat
bantu navigasi manapun. Untuk memenuhi maksud Aturan ini penggunaan penerangan
berselang-selang atau penerangan berputar dengan intensitas tinggi, misalnya
penerangan-penerangan stroba, harus dihindarkan.

ATURAN 37

ISYARAT BAHAYA

Bilamana kapal dalam bahaya dan membutuhkan
pertolongan, kapal itu harus menggunakan atau memperlihatkan isyarat-isyarat
yang ditentukan didalam Lampiran IV Peraturan ini.

BAGIAN E

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
P2TL BAGIAN C PENERANGAN DAN SOSOK BENDA

admin

21 Feb 2024

BAGIAN C PENERANGAN DAN SOSOK BENDA ATURAN 20 P E M B E R L A K U A N (a). Aturan-aturan didalam bagian ini harus dipenuhi dalam segala keadaan cuaca. (b). Aturan-aturan tentang penerangan-penerangan harus dipenuhi semenjak saat matahari terbenam sampai saat matahari terbit, dan selama jangka waktu tersebut penerangan-penerangan lain tidak boleh diperlihatkan …

BAGIAN B SEKSI III SIKAP KAPAL DALAM PENGLIHATAN TERBATAS

admin

13 Feb 2024

  SEKSI IIISIKAP KAPAL DALAM PENGLIHATAN TERBATAS ATURAN 19 PERILAKU KAPAL DALAM PENGLIHATAN TERBATAS (a). Aturan ini berlaku bagi kapal-kapal yang tidak saling melihat bilamana sedang berlayar disuatu daerah yang berpenglihatan terbatas atau didekatnya. (b). Setiap kapal harus berjalan dengan kecepatan aman yang disesuaikan dengan keadaan dan suasana penglihatan terbatas yang ada. Kapal tenaga harus …

P2TL BAGIAN A BAGIAN UMUM

admin

03 Feb 2024

P2TL PERATURAN INTERNASIONAL UNTUK MENCEGAH TUBRUKAN DI LAUT 1972 BAGIAN UMUM ATURAN I PEMBERLAKUAN (a). Aturan-aturan ini berlaku bagi semua kapal di laut lepas dan di semua perairan yang berhubungan dengan laut yang dapat dilayari oleh kapal-kapal laut. (b). Tidak ada suatu apapun dalam aturan – aturan ini yang menghalangi berlakunya peraturan-peraturan khusus yang dibuat …

P2TL BAGIAN E PEMBEBASAN

admin

26 Mar 2023

 BAGIAN EPEMBEBASAN – PEMBEBASAN ATURAN 38 P E M B E B A S A N Setiap kapal ( atau kelas kapal-kapal ) dengan ketentuan bahwa kapal itu memenuhi syarat-syarat Peraturan internasional tentang pencegahan tubrukan di laut 1960 yang lunasnya diletakkan sebelum peraturan ini berlaku atau yang pada tanggal itu dalam tahapan pembangunan yang sesuai, …

P2TL BAGIAN B SEKSI II SIKAP KAPAL DALAM KEADAAN SALING MELIHAT

admin

26 Mar 2023

  SEKSI IISIKAP KAPAL DALAM KEADAAN SALING MELIHAT ATURAN 11 PEMBERLAKUAN Aturan-aturan dalam seksi ini berlaku dalam keadaan saling melihat. ATURAN 12 KAPAL LAYAR a). Bilamana dua kapal layar saling mendekati, sehingga mengakibatkan bahaya tubrukan ,satu diantarnya harus menghindari yang lain sebagai berikut : Bilamana masing-masing dapat angin pada lambung yang berlainan maka kapal yang …

P2TL Bagian B SEKSI I ATURAN MENGEMUDIKAN KAPAL DAN MELAYARKAN KAPAL

admin

26 Mar 2023

  BAGIAN BATURAN –ATURAN MENGEMUDIKAN KAPAL DAN MELAYARKAN KAPALSEKSI 1 SIKAP KAPAL-KAPAL DALAM SETIAP KEADAAN PENGLIHATAN ATURAN 4 PEMBERLAKUAN Aturan-aturan dalam seksi ini berlaku dalam setiap keadaan penglihatan. ATURAN 5 PENGAMATAN Tiap kapal harus senantiasa melakukan pengamatan yang layak,baik dengan penglihatan dan pendengaran maupun dengan semua sarana tersedia yang sesuai dengan keadaan dan suasana yang …

x
x